perkembangan motorik

makalah perkembangan motorik
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pada saat sekarang ini banyak sekali pendidik khususnya guru olahraga yang kurang sekali memperhatikan muridnya dalam melakukan pengajaran pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi. Hal ini terkadang menyebabkan perkembangan motorik anak mengalami gangguan, karena seringnya melakukan gerakan-gerakan maupun latihan yang salah atau tidak sesuai dengan usianya. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan dalam melakukan pengajaran, yakni yang sesui dengan karakteristik perkembangan motorik anak. Sehingga ketika anak beranjak dewasa akan tercipta gerak motorik yang baik.
1. Permasalahan
Kami selaku kelompok TK A melakukan observasi, karena kami ingin mengetahui kinerja anak TK A dalam gerak lari 10m, melempar bola dan menangkap lompat, merangkak serta mengetahui pertumbuhan fisik anak TK A. Dengan melakukan observasi, kami sebagai calon pendidik akan mengetahui metode apa yang harus kami berikan dalam pembelajaran gerak di sekolah nantinya.
Dari uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah proses pengajaran pendidikan jasmani yang baik untuk anak sekolah dasar khususnya kelas dua?
2. Apakah pengaruh gerak motorik dan pertumbuhan fisik anak waktu kecil juga berpengaruh gerak motorik anak pada saat sudah dewasa?
1. Pembatasan Masalah
Dengan melihat tujuan dari penelitian yang kami lakukan ini, maka kami sebagai peneliti membatasi pembahasan kami sebatas untuk mencapai tujuan dari penelitian tersebut, yakni mengetahui perkembangan motorik dan pertumbuhan fisik anak usia TK A sehubungan dengan pengaruhnya terhadap gerak motorik anak setelah beranjak dewasa
1. Tujuan Penelitian
Mengetahui perkembangan motorik dan pertumbuhan fisik anak usia TK A sehubungan dengan pengaruhnya terhadap gerak motorik anak setelah beranjak dewasa
BAB II
KAJIAN TEORI
Suatu panitia mengenai etika dalam penelitian tentang anak yang dibentuk oleh society for reserch in child development mengajukan pokok-pokok yang harus diperhatikan dalam melakukan penelitian tentang anak. Seberapa muda pun seorang anak, ia mempunyai hak yang harus didahulukan daripada hak si peneliti sendiri. Dalam melaksanakan penelitian, sipeneliti harus memperhatikan hak anak dan harus memperoleh izin dari orang-orang dilingkungan hidup anak atau panitia yang ada.
Disini kami mengalaminya apa yang disebut hak anak lebih didahulukan. Dimana kami harus izin kepada guru atau kepala sekolah sebagai orang tua pengganti. Kami harus mendapat izin rekomendasikan oleh jurusan, setelah itu baru mendapat persetujuan dari orang tua penganti, baru kita mendapatkan persetujuan untuk melakukan observasi.
Penelitian harus menghargai kebebasan anak apakah bersedia menjadi subjek penelitian atau tidak, dan pada setiap saat anak bebas untuk berhenti bila mana dikehendakinya. Semakin besar kekuasan atau kebebasan dari pihak si peneliti terhadap anak yang dijadikan subjek penelitian, semakin besar tanggung jawab untuk melindungi kebebasan anak.
Didalam penelitian ini kami merasa bersyukur dan puas, karena apa yang telah anak berikan kepada kami sesuai dengan apa yang kami harapkan. Tapi disini kami juga merasa khawatir akan tingkah laku si anak. Karena waktu itu anak susah dikendalikan, jadi kami harus ekstra waspada untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak kami inginkan.
Izin orang tua atau orang lain yang bertindak sebagai “orang tua pengganti”, (misalnya guru atau pengasuh) harus diperoleh, sebaiknya secara tertulis. Sebelumnya orang tua atau orang dewasa lain yang bertanggung jawab terhadap anak harus diberi tahu segala sesuatu mengenai pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan secara jelas yang mungkin mempengaruhi kesediaannya untuk mengizinkan anak mengikuti penelitian. Penjelasan yang diberikan meliputi jabatan dan profesi si peneliti. Orang dewasa (orang tua, wali, pengasuh) yang bertanggung terhadap anak berhak menolak anak atau anak asuhnya untuk dijadikan subjek penelitiannya tanpa ada kaitan dengan kemungkinan akan ditolak.
Setelah kami menyodorkan surat izin secara resmi dari jurusan. Orang tua pengganti masih terus menanyakan jenis penelitian yang bagaimana yang akan kami laksanakan, mengapa kami memilih sekolah tersebut sebagai bahan penelitian kami, jadi saya sebagai koordinator mencoba menjelaskan apa yang akan kami laksanakan mulai dari lari zig-zag, kemampuan melompat, kemampuan melempar, tingkat keseimbangan dinamis, ketepatan melempar, kemampuan menangkap, dan pengukuran pertumbuhan tubuh. Orang tua pengganti menanyakan perlengkapan apa yang kami punya untuk semua kegiatan yang akan kami laksanakan.
Peneliti dalam melaksanakan tidak boleh menimbulkan kerusakan atau kerugian (cacat) baik dari sudut fisik maupun dari sudut psikologis. Pengertian menimbulkan kerugian secara psikologis memang sulit dirumuskan, hal ini diserahkan kepada tanggung jawab si peneliti sendiri. Bilamana si peneliti merasa ragu-ragu untuk menentukan hal ini, maka ia wajib melakukan konsultasi sesama rekannya. Bilamana terlihat akan merugikan anak dalam melaksanakan penelitian, peneliti harus mencari jalan lain untuk menghindari hal ini atau menghentikan sama sekali rencana penelitian yang ada.
Setelah kami mengkonsultasikan akan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi seperti perlengkapan medis, jadi kami merasa sudah siap. Dan dalam pelaksanan penelitian tersebut, tidak ada kecelakaan yang mengakibatkan siswa terluka.
BAB III
HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN
1. METODE
Observasi menggunakan metode survey, dengan tujuan untuk mengetahui hasil keterampilan gerak dasar lokomotor, nonlokomotor dan manipulatif. Dalam observasi yang kami lakukan saat ini, kami memberikan satu tes keterampilan motorik untuk setiap gerak dasar.
1. TES
Pada observasi yang kami lakukan terhadap siswa TK A, dengan memberikan tes berupa lari 10m, kemampuan melompat, kemampuan melempar, tingkat keseimbangan dinamis, ketepatan melempar, merangkak, kemampuan menangkap, dan pengukuran pertumbuhan tubuh.
1. SAMPEL
Observasi yang kami lakukan di sekolah TK A Lab School, kami mengambil sampel sebanyak 16 anak. Yang terdiri atas 7 orang anak perempuan dan 9 orang anak laki-laki. Oleh karena kami melakukan penelitian pada siswa TK A, maka sampel yang kami teliti umumnya berusia empatsampai dengan lima tahun
BAB IV
HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN
1. HASIL OBSERVASI
1.
o
1.
1. Hasil Pengukuran Tinggi Badan
No Nama L/P Tinggi badan
1 Abdi Alamsah L 102
2 Adi Legowo L 104
3 A.M Ilham Hanif Ihwan L 105
4 Fitra Okta Pradana Arief L 105
5 Hafidh Setyo Ismail L 103
6 Lenka Melinda F P 114
7 Maritza Assifa Azzahra P 104
8 Mentari Shiva Ramadhania P 106
9 M. Royhan Ulumuddin S L 104
10 Naila syakira Jatmiko P 120
11 Radinka Azarine Devara P 100
12 Reyhan Andika Putra L 103
13 Sirin Areta Wibawa P 103
14 Tasyaul Izzati De Agusta P 102
15 Usamah Miharjo L 105
16 Wagindra Weka Wiryawan L 103
1.
o
1.
1. Hasil Pengukuran Panjang Tungkai
No Nama L/P Panjang tungkai
1 Abdi Alamsah L 55
2 Adi Legowo L 60
3 A.M Ilham Hanif Ihwan L 58
4 Fitra Okta Pradana Arief L 77
5 Hafidh Setyo Ismail L 57
6 Lenka Melinda F P 38
7 Maritza Assifa Azzahra P 33
8 Mentari Shiva Ramadhania P 33
9 M. Royhan Ulumuddin S L 57
10 Naila syakira Jatmiko P 35
11 Radinka Azarine Devara P 33
12 Reyhan Andika Putra L 33
13 Sirin Areta Wibawa P 39
14 Tasyaul Izzati De Agusta P 35
15 Usamah Miharjo L 58
16 Wagindra Weka Wiryawan L 33
1.
o
1.
1. Hasil Pengukuran Lebar Dada
No Nama L/P Lebar dada
1 Abdi Alamsah L 30
2 Adi Legowo L 26
3 A.M Ilham Hanif Ihwan L 25
4 Fitra Okta Pradana Arief L 23
5 Hafidh Setyo Ismail L 25
6 Lenka Melinda F P 27
7 Maritza Assifa Azzahra P 22
8 Mentari Shiva Ramadhania P 26
9 M. Royhan Ulumuddin S L 22
10 Naila syakira Jatmiko P 25
11 Radinka Azarine Devara P 23
12 Reyhan Andika Putra L 20
13 Sirin Areta Wibawa P 25
14 Tasyaul Izzati De Agusta P 23
15 Usamah Miharjo L 25
16 Wagindra Weka Wiryawan L 23
1.
o
1.
1. Hasil Pengukuran lari 10m
No Nama L/P Waktu
1 Abdi Alamsah L 05.50.12
2 Adi Legowo L 03.97.50
3 A.M Ilham Hanif Ihwan L 04.10.12
4 Fitra Okta Pradana Arief L 02.02.05
5 Hafidh Setyo Ismail L 04.43.75
6 Lenka Melinda F P 04.25.00
7 Maritza Assifa Azzahra P 05.25.00
8 Mentari Shiva Ramadhania P 04.87.50
9 M. Royhan Ulumuddin S L 03.46.87
10 Naila syakira Jatmiko P 03.43.75
11 Radinka Azarine Devara P 03.62.50
12 Reyhan Andika Putra L 05.02.60
13 Sirin Areta Wibawa P 05.35.45
14 Tasyaul Izzati De Agusta P 06.25.20
15 Usamah Miharjo L 04.93.75
16 Wagindra Weka Wiryawan L 03.08.50
1.
o
1.
1. Hasil Pengukuran Merangkak
No Nama L/P Waktu
1 Abdi Alamsah L 08.62.05
2 Adi Legowo L 04.58.25
3 A.M Ilham Hanif Ihwan L 05.59.00
4 Fitra Okta Pradana Arief L 06.12.00
5 Hafidh Setyo Ismail L 06.93.75
6 Lenka Melinda F P 06.75.10
7 Maritza Assifa Azzahra P 09.45.32
8 Mentari Shiva Ramadhania P 07.55.00
9 M. Royhan Ulumuddin S L 06.93.56
10 Naila syakira Jatmiko P 05.45.30
11 Radinka Azarine Devara P 08.59.65
12 Reyhan Andika Putra L 06.93.75
13 Sirin Areta Wibawa P 05.23.65
14 Tasyaul Izzati De Agusta P 08.12.60
15 Usamah Miharjo L 06.25.00
16 Wagindra Weka Wiryawan L 05.87.50
1.
o
1.
1. Hasil Pengukuran Tinggi Duduk
No Nama L/P Tinggi duduk
1 Abdi Alamsah L 60
2 Adi Legowo L 56
3 A.M Ilham Hanif Ihwan L 62
4 Fitra Okta Pradana Arief L 58
5 Hafidh Setyo Ismail L 57
6 Lenka Melinda F P 40
7 Maritza Assifa Azzahra P 57
8 Mentari Shiva Ramadhania P 58
9 M. Royhan Ulumuddin S L 58
10 Naila syakira Jatmiko P 44
11 Radinka Azarine Devara P 42
12 Reyhan Andika Putra L 55
13 Sirin Areta Wibawa P 57
14 Tasyaul Izzati De Agusta P 55
15 Usamah Miharjo L 62
16 Wagindra Weka Wiryawan L 57
1.
o
1.
1. Hasil Pengukuran Berat Badan
No Nama L/P Berat badan
1 Abdi Alamsah L 25
2 Adi Legowo L 16
3 A.M Ilham Hanif Ihwan L 17
4 Fitra Okta Pradana Arief L 16
5 Hafidh Setyo Ismail L 14
6 Lenka Melinda F P 25
7 Maritza Assifa Azzahra P 16
8 Mentari Shiva Ramadhania P 22
9 M. Royhan Ulumuddin S L 16
10 Naila syakira Jatmiko P 19
11 Radinka Azarine Devara P 13
12 Reyhan Andika Putra L 15
13 Sirin Areta Wibawa P 14
14 Tasyaul Izzati De Agusta P 14
15 Usamah Miharjo L 18
16 Wagindra Weka Wiryawan L 15
1.
o
1.
1. Hasil Pengukuran Lingkar Kepala
No Nama L/P Lingkar Kepala
1 Abdi Alamsah L 52
2 Adi Legowo L 50
3 A.M Ilham Hanif Ihwan L 50
4 Fitra Okta Pradana Arief L 50
5 Hafidh Setyo Ismail L 51
6 Lenka Melinda F P 54
7 Maritza Assifa Azzahra P 48
8 Mentari Shiva Ramadhania P 50
9 M. Royhan Ulumuddin S L 49
10 Naila syakira Jatmiko P 52
11 Radinka Azarine Devara P 48
12 Reyhan Andika Putra L 52
13 Sirin Areta Wibawa P 51
14 Tasyaul Izzati De Agusta P 48
15 Usamah Miharjo L 50
16 Wagindra Weka Wiryawan L 52
1.
o
1.
1. Hasil Pengukuran Panjang Lengan
No Nama L/P Panjang Lengan
1 Abdi Alamsah L 34
2 Adi Legowo L 33
3 A.M Ilham Hanif Ihwan L 23
4 Fitra Okta Pradana Arief L 59
5 Hafidh Setyo Ismail L 39
6 Lenka Melinda F P 35
7 Maritza Assifa Azzahra P 32
8 Mentari Shiva Ramadhania P 32
9 M. Royhan Ulumuddin S L 41
10 Naila syakira Jatmiko P 33
11 Radinka Azarine Devara P 30
12 Reyhan Andika Putra L 32
13 Sirin Areta Wibawa P 57
14 Tasyaul Izzati De Agusta P 49
15 Usamah Miharjo L 42
16 Wagindra Weka Wiryawan L 32
1.
o
1.
1. Hasil Pengukuran Kemampuan Menangkap
No Nama L/P Kesempatan Menangkap
1 2 3
1 Abdi Alamsah L
2 Adi Legowo L
3 A.M Ilham Hanif Ihwan L
4 Fitra Okta Pradana Arief L
5 Hafidh Setyo Ismail L
6 Lenka Melinda F P
7 Maritza Assifa Azzahra P
8 Mentari Shiva Ramadhania P
9 M. Royhan Ulumuddin S L
10 Naila syakira Jatmiko P
11 Radinka Azarine Devara P
12 Reyhan Andika Putra L
13 Sirin Areta Wibawa P
14 Tasyaul Izzati De Agusta P
15 Usamah Miharjo L
16 Wagindra Weka Wiryawan L
1.
o
1.
1. Hasil Pengukuran Melompat Tanpa Awalan
No Nama L/P Jarak (cm)
1 Abdi Alamsah L 78
2 Adi Legowo L 60
3 A.M Ilham Hanif Ihwan L 96
4 Fitra Okta Pradana Arief L 70
5 Hafidh Setyo Ismail L 85
6 Lenka Melinda F P 70
7 Maritza Assifa Azzahra P 58
8 Mentari Shiva Ramadhania P 70
9 M. Royhan Ulumuddin S L 70
10 Naila syakira Jatmiko P 70
11 Radinka Azarine Devara P 68
12 Reyhan Andika Putra L 70
13 Sirin Areta Wibawa P 60
14 Tasyaul Izzati De Agusta P 65
15 Usamah Miharjo L 65
16 Wagindra Weka Wiryawan L 60
14. Hasil Pengukuran Lempar Bola
NO NAMA Lempar bola (CM) RATA-RATA
I II III
1 Abdi Alamsah 2.20 2.10 2.90 2.40
2 Adi Legowo 4.50 3.10 3.20 3.60
3 A.M Ilham Hanif Ihwan 5.00 5.20 5.40 5.20
4 Fitra Okta Pradana Arief 6.90 4.70 4.70 5.40
5 Hafidh Setyo Ismail 2.50 2.55 2.10 2.38
6 Lenka Melinda F 2.70 2.30 2.20 2.40
7 Maritza Assifa Azzahra 4.30 2.10 1.95 2.78
8 Mentari Shiva Ramadhania 1.10 60 40 33.7
9 M. Royhan Ulumuddin S 4.40 2.20 2.30 2.97
10 Naila syakira Jatmiko 5.20 4.50 4.00 4.57
11 Radinka Azarine Devara 3.30 2.80 3.30 3.13
12 Reyhan Andika Putra 2.40 2.00 2.70 2.37
13 Sirin Areta Wibawa 2.50 1.95 3.35 2.60
14 Tasyaul Izzati De Agusta 3.10 2.50 1.70 2.43
15 Usamah Miharjo 3.90 2.90 1.80 2.87
16 Wagindra Weka Wiryawan 3.60 1.80 2.80 2.73
1. PEMBAHASAN
1. Keterampilan motorik
Selama masa awal anak-anak yakni pada usia tujuh sampai delapan tahun ini, seorang anak mengalami peningkatan yang dramatis pada keterampilan motorik kasar. Anak-anak menjadi lebih berani ketika keterampilan motorik kasar mereka meningkat. Selain itu, hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan fisik yang cepat yang menyebabkan anak semakin tinggi dan semakin besar, maka kemampuan fisik merekapun meningkat. Beberapa macam kemampuan fisik yang cukup nyata perkembangannya pada masa ini adalah: kekuatan, keseimbangan, dan koordinasi. Oleh karenanya kehidupan anak-anak sangat aktif, lebih aktif dari pada titik lain manapun pada siklus kehidupan.
Karakteristik atau gambarannya pada motorik halus juga meningkat secara substansial selama masa awal anak-anak. Hal ini akan terus berlanjut seiring dengan bertambahnya usia mereka.
1. Keterampilan yang diperlukan anak (4-5 tahun)
Aktivitas yang menggunakan keterampilan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini anak-anak diberikan kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam berbagai macam aktivitas untuk memperoleh pengetahuan dan penguasaan keterampilan.
Bentuk aktivitas:
1. Pengenalan keterampilan berolahraga, anak diperkenalkan dengan beberapa macam cabang olahraga, misalnya
1.
o Bermain bola menggunakan kaki
o Bermain bola dengan menggunakan tangan dengan berbagai ukuran
o Memukul bola dengan menggunakan pemukul
2. Bermain dalam situasi berlomba atau bertanding, dengan pengirganisasian yang sederhana, misalnya
o Berpacu dalam beberapa macam gerakan
o Menggiring bola
o Melempar sejauh-jauhnya
3. Aktivitas pengujian diri dan aktivitas yang menggunakan alat-alat, misalnya
o Memanjat tiang sampai ketinggian tertentu
o Menggantung pada palang tunggal
o Meloncat naik dan turun pada peti loncat
o Meniti pada balok titian
o Mempertahankan keseimbangan dengan sikap kapal terbang
4. Berlatih dalam situasi “dril”, misalnya
o Menyepak bola ke arah tertentu berulang-ulang
o Melempar bola ke arah sasaran tertentu berulang-ulang
o Mengguling ke depan atau kebelakang
Aktivitas secara beregu atau berkelompok. Anak-anak diberikan kesempatan untuk bekerja sama dengan teman-temannya untuk melakukan aktivitas untuk membina kebersamaan diantara mereka.
Bentuk aktivitas:
1.
o
1. Aktivitas bermain atau berlomba beregu
• Bermain sepakbola, bola tangan atau bola kasti
• Estafet dalam beberapa mcam gerakan
1.
o
1. Bermain atau menari berkelompok dengan membentuk komposisi tertentu
• Beberapa anak membentuk formasi terentu secara berubah-ubah dengan berlari
• Menari dengan membentuk formasi tertentu
Aktivitas mencoba-coba. Anak diberikan kesempatan untuk mencobakan kemampuannya untuk mengatasi suatu masalah, dan belajar tentang prinsip-prinsip mekanis, fisiologis dan kinesiologis dari gerakan-gerakan
Bentuk aktivitas:
1. Aktivitas mengatasi masalah menurut kemampuan dan cara masing-masing, misalnya:
1.
o Menempuh rintangan tertentu dengan cara dan kemampuan masing-masing secepat-cepatnya
o Memindahkan benda tertentu dari satu tempat ke tempat lain dengan cara mereka sendiri secepat-cepatnya
2. Aktivitas gerak tari kreatif, misalnya:
o Bergerak bebas menurut kreasinya masing-masing mengikuti macam-macam irama musik
3. Aktivitas latihan gerak untuk pengembangan, misalnya:
o Mencoba-coba beberapa macam gerakan menyepak bola agar bisa menemukan cara menyepak yang paling efisien dan efektif yang sesuai untuk masing-masing anak.
o Mencoba-coba beberapa macam gerakan melempar bola agar bisa menemukan cara melempar yang paling efisien dan efektif yang sesuai untuk masing-masing anak.
Aktivitas untuk meningkatkan kemampuan fisik dan keberanian dalam bentuk aktivitasindividual atau permainan kelompok, terutama yang menlibatkan kekuatan dan ketangkasan.
Bentuk aktivitas:
1. Permainan combatives, misalnya:
1.
o Bermain perang-perangan
o Bermain kejar-kejaran
o Bermain timpuk-timpukan dengan bola yang ringan agar tidak sakit apabila terkena
o Bermain petak unpet
2. Program latihan untuk pengembangan kemampuan fisik, misalnya:
• “squat jump” untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot kaki
• “sit ups” untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot perut
• “push ups” untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot lengan dan bahu
• :back ups” untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot perut
1. Latihan relaksasi, misalnya
1.
o Latihan mengatur nafas
o Latihan peregangan otot-otot tubuh
o Latihan pengenduran otot-otot tubuh
Masa anak besar berada pada usia kanak-kanak, oleh karena itu peranan guru kanak-kanak pada umumnya dan guru pendidikan jasmani dan olahraga di taman kanak-kanak khususnya sangat besar dalam memberi pengarahan dan pengarahan pada anak-anak pada masa ini. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan motorik baik pada usia ini maupun pada masa berikutnya dapat sesuai dengan perkembangan motorik.
Oleh karena kemampuan motorik anak pada masa ini merupakan awal atau dasar dari kemampuan motorik pada masa-masa selanjutnya, maka dapat di ambil asumsi bahwa kemampuan motorik pada masa ini akan sangat berpengaruh pada masa selanjutnya yakni pada masa dewasa. Apabila kemampuan motorik masa ini berkembang dengan baik, maka perkembangan berikutnya akan baik pula.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Pada masa kanak-kanak khususnya TK A keterampilan motorik kasar meningkat secara dramatis dan keterampilan motorik halus akan meningkat secara substansional seiring dengan pertambahan usia, sehingga pada waktu diberi tes akan terlihat gerak motorik bagian tubuhnya yang belum sempurna seperti manusia dewasa. Kebanyakan gerak mereka masih mencari gerakan yang tepat untuk melakukan suatu gerak tertentu maka apabila ada kesalahan akan mudah untuk diarahkan pada gerakan yang benar sampai tercipta ketrampilan motorik yang sempurna.
1. Saran
Kami selaku kelompok TK A yang melakukan observasi kepada anak-anak usia 4-5 tahun, jika nantinya kita mengajar anak usia 4-5 tahun diharapkan memiliki kesabaran yang lebih dan materinya pun masih bersifat fun game sehingga membuat anak berkeringat dan aktif dalam pembelajaran. Kami juga mengharapkan saran dan kritikan dari pembaca yang sifatnya membangun dan berguna bagi kita kelak sebagai calon pendidik pendidikan jasmani apabila banyak terdapat kekurangan dan kesalahan dalam menyusun materi dan kata-kata. Semoga sesuatu yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi kita dimasa mendatang.
15

Berikan kesempatan berpraktik atau berlatih yang cukup sesuai dengan taraf perkembangan fisik anak usia dini sampai mereka menguasai keterampilan tersebut.

Mengulang secara teratur bentuk-bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan, sehingga bentuk-bentuk gerakan tetap dapat dikuasai. Dan tambahlah dengan hal-hal baru.

Kegiatan pengembangan harus berjalan dalam suasana gembira dan
menyenangkan.

Usahakan agar anak-anak mempunyai cita-cita yang tinggi

Adakan analisa bagi anak-anak yang kurang berhasil.

Bekerja dengan prinsip mengikut sertakan anak-anak secara keseluruhan
(sebanyak mungkin). Buat mereka sibuk, senang dan bermamfaat.
6. Nada Suara
Nada suara guru merupakan alat kontak dengan anak. Suasana kegiatan pengembangan akan sangat dipengaruhi oleh nada guru. Kepandaian berbicara harus dapat menjelaskan apa yang dimaksudkan, dan dapat pula memberikan perintah yang tepat . hal ini berbeda dari sekolah satu dengan yang lain dan kelas ke kelas berikutnya.
Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut:
Nada suara harus memberi dorongan dan semangat
 Ramah. Bukan berarti suatu sikap yang tidak pasti. Tidak pernah menghardik
Nada suara harus jelas
 Bebicara tidak keras
 Berbicara singkat dan jelas
 Nada suara harus sesuai dengan ruang pembicaraan atau luas ruangan.
7. Koreksi
Koreksi atau perbaikan dapat dilakukan dengan dua cara;
(1) koreksi serentak (klasikal)
koreksi serentak dilakukan bila sebagian besar anak-anak membuat kesalahan, maka anak-anak dikumpulkan, selanjutnya guru menjelaskan kesalahan yang banyak dilakukan dan mengadakan perbaikan. Ini disebut koreksi tidak lansung.
16
(2) koreksi perorangan.
Koreksi perorangan dilakukan bila hanya satu dua anak melakukan keslahan dan guru lansung melakukan koreksi secara perorangan terhadap anak-anak yang masih membuat kesalahan itu.
8. Keamanan dan keselamatan
Selama kegiatan pengembangan keterampilan motorik berlansung, keamanan dan keselamatan anak-anak harus benar-benar terjamin, untuk itu beberapa hal yang mesti dilakukan:
Sebelum kegiatan pengembangan keteramilan motorik khsususnya motorik
kasar dimulai, lapangan atau halaman bermain terlebih dahulu diperiksa kalau-kalau ada hal yang dapat menimbulkan bahaya bagi anak-anak, seperti halaman tidak rat, berlubang, banyak batu menonjol, licin dll.
Alat-alat bantu pengembangan yang dipakai diperiksa dengan teliti jangan
sampai apabila dipergunakan dapat menimbulkan kecelakaan karena
rusaknya alat-alat.
 Susunan dan pengaturan anak tidak membahayakan anak yang satu dengan
yang lain. Seperti pengaturan jarak (dalam kegiatan manipulatif atau
melempar).
C. Simpulan
Peran Pendidik dalam pengembangan Motorik anak sangat penting dengan adanya pelayanan dari pendidik agar dapat berkembang dengan baik. Perkembangan motorik anak berhubungan erat dengan kondisi fisik dan intelektual anak.
Selain itu Faktor gizi, pola pengasuhan anak, dan lingkungan ikut berperan dalam perkembangan motorik anak. Perkembangan motorik anak berlangsung secara bertahap tapi memiliki alur kecepatan perkembangan yang berbeda pada setiap anak. Untuk itu pelayanan dalam perkembangan anak usia dini tidak hanya di serahkan pada pendidik di sekolah, hendaknya orang tua ikut berpartisipasi dan bekerjasama dengan pendidik untuk memberikan pelayanan terhadap perkembangan anak. Sehingga perkembangan anak dapat dicapai secara optimal.
17
Referensi
Depdiknas, Dirjen PMPTK, Direktorat PTKPNF, 2006. Konsep Dasar Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD). Jakarta: Depdiknas, Dirjen PMPTK, Direktorat PTKPNF
Depdiknas, Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pos PAUD (Direktorat PAUD, 2006)
Depdiknas. Badan Penelitian dan Pengembangan Puskur, 2007. Naskah Akademik
Kajian Kebijakan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas.
Badan Penelitian dan Pengembangan Puskur
Depdiknas. Dikti, Direktorat P2TK & KPT, 2005. Model Keterampilan Motorik Anak
Usia Dini. Jakarta: Depdiknas. Dikti, Direktorat P2TK & KPT
Direktorat PADU (2002). Acuan Menu Pembelajaran pada Pendidikan Anak Dini Usia
(Menu Pembelajaran Generik). Jakarta: Direktorat Padu.
Hurlock B. Elizabeth. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Jamaris, Martini (2003). Perkembangaan dan Pengembangan Anak Usia Taman
Kanak-kanak. Jakarta: UNJ
Patmonodewo,Soemiarti. 2003. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta
Petterson, Candida (1996) Looking forward through the Lifespan. Australia: Prentice
Hall
Santrock, John (2007) Child Development, New York: McGrow
Subagio (1985). Mengajar Praktek Olah raga. Jakarta: Ditdgutentis. Dikdasmen
Depdikbud.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Jakarta: Lembaran Negara Republik Indonesia No. 78, 2003
Yusuf, Syamsu LN (2002) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT
Remaja Rosdakar


Mengenai Saya

ronaldi
Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia
Anak ke6 dari 6 bersaudara dari pasangan Ayahanda Drs.Syofyan R (Almarhum ), dan Ibunda Rosni.z.
Lihat profil lengkapku

Rabu, 16 Desember 2009
contoh RPP terbaru SMP
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) 1

SMP/MTs : S M P BUKITTINGGI

Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Kelas/Semester : VII (Ganjil )

Standar Kompetensi
Mempraktikan berbagai teknik dasar permainan dan olahraga, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya

Kompetensi Dasar
Mempraktikan teknik dasar salah satu permainan dan olahraga bola besar beregu serta nilai kerja sama, toleransi, percaya diri, memecahkan masalah, menghargai teman keberanian ( Sepak Bola )

Indikator
Psikomotor
• Mengumpan dan menggiring bola menggunakan kaki bagian dalam dan luar
• Bermain dengan peraturan yang dimodifikasi
Kognisi
• Mengetahui bentuk-bentuk mengumpan dan menggiring bola menggunakan kaki bagian dalam dan luar

Afeksi
• Dapat bekerjasama dengan teman dalam kelompok


Alokasi Waktu : 2 x 40 menit

A. Tujuan Pembelajaran
• Siswa dapat melakukan mengumpan bola dengan kaki bagian dalam dan luar dengan benar
• Siswa dapat melakukan menahan bola dengan kaki bagian dalam, luar dan telapak kaki dengan benar
• Siswa dapat melakukan menggiring bola dengan kaki bagian dalam dan luar dengan benar
• Siswa dapat bermain sepakbola dengan baik menggunakan peraturan yang dimodifikasi untuk memupuk nilai kerja sama, toleransi, percaya diri, keberanian, menghargai teman

B. Materi Pembelajaran
Permainan Sepakbola
• Mengumpan bola menggunakan kaki bagian dalam dan luar
• Menggiring bola menggunakan kaki bagian dalam dan luar
• Bermain sepakbola menggunakan peraturan yang dimodifikasi

C. Metode Pembelajaran
Penugasan, resiprokal /timbal-balik


D. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

1. Kegiatan Pendahuluan (15 menit)
- Berbaris, berdoa, presensi, apersepsi
- Memberikan motivasi dan menjelaskan tujuan pembelajaran
- Pemanasan
Permainan kecil: Merampas bola dalam lingkaran



- Peregangan Statis
Otot leher, bahu, lengan, tangan pinggang dan kaki.


2. Kegiatan Inti (55 menit)
EKSPLORASI
¬ guru membagikan bahan ajar, yang berisi deskripsi tugas dan indikator tugas gerak
¬ siswa mempelajari tugas ajar dan indikator keberhasilannya
¬ siswa memperkirakan waktu yang diperlukan untuk mencapai ketuntasan tugas ajar.
¬ siswa melaksanakan tugas ajar sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan sendiri.
¬ bagi siswa yang belum mampu mencapai target belajar sesuai dengan alokasi waktunya, maka mereka diberi kesempatan untuk memperbaiki target waktu.

Elaborasi
 Melakukan teknik dasar mengumpan dengan bola diam berhadapan dengan teman
Melakukan teknik dasar mengumpan dengan bola digelindingkan teman dari depan di tempat
Melakukan teknik dasar mengumpan dengan bola dilambung teman dari depan di tempat dilanjutkan dengan bergerak maju dan mundur
Melakukan teknik dasar mengumpan secara langsung








 Melakukan teknik dasar mengiring bola dengan arah lurus kedepan












Melakukan teknik dasar mengiring bola dengan arah zig-zag kedepan




Bermain dengan peraturan yang dimodifikasi



KONFIRMASI
• bagi siswa yang telah berhasil mencapai target sesuai dengan waktu atau lebih cepat, maka mereka diberi kesempatan untuk mencoba permainan sepak bola dengan peraturan yang dimodifikasi.



3. Penutup (10 Menit)

- Pendinginan, berbaris, tugas-tugas, evaluasi proses pembelajaran, berdoa dan bubar
E. Sumber Belajar
- Ruang terbuka yang datar dan aman
- Bola
- Buku teks
- Buku referensi, Roji, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas VII, Jakarta : Erlangga
- Lembar Kerja Proses Belajar, Roji, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
F. Penilaian
1. Teknik penilaian:
- Tes unjuk kerja (psikomotor):
Lakukan teknik dasar mengumpan, menggiring bola dengan kaki bagian dalam dan luar serta menahan bola dengan kaki bagian dalam, luar dan telapak
Keterangan:
Penilaian terhadap kualitas unjuk kerja peserta ujian, dengan rentang nilai antara 1 sampai dengan 4

Jumlah skor yang diperoleh
Nilai = ----------------------------------------- X 50
Jumlah skor maksimal

- Pengamatan sikap (afeksi):
Mainkan permainan sepakbola dengan peraturan yang telah dimodifikasi. Taati aturan permainan, kerjasama dengan teman satu tim dan tunjukkan perilaku sportif, keberanian, percaya diri dan menghargai teman
Keterangan:
Berikan tanda cek ( √ ) pada kolom yang sudah disediakan, setiap peserta ujian menunjukkan atau menampilkan perilaku yang diharapkan. Tiap perilaku yang di cek ( √ ) memdapat nilai 1
Jumlahskor yang diperoleh
Nilai = ----------------------------------------- X 30
Jumlah skor maksimal

- Kuis/embedded test (kognisi):
Jawab secara lisan atau peragakan dengan baik, pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep gerak dalam permainan sepakbola

Keterangan:
Penilaian terhadap kualitas jawaban peserta ujian, dengan rentang nilai antara 1 sampai dengan 4

Jumlah skor yang diperoleh
Nilai = ----------------------------------------- X 20
Jumlah skor maksimal

- Nilai akhir yang diperoleh siswa =




2. Rubrik Penilaian

RUBRIK PENILAIAN
UNJUK KERJA TEKNIK DASAR PERMAINAN SEPAK BOLA

Aspek Yang Dinilai Kualitas Gerak
1 2 3 4
Melakukan Teknik DasarMengumpan, Menggiring Bola Dengan Kaki Bagian Dalam dan Luar
1. Bentuk gerakan kaki saat menendang bola diayun ke depan arah bola
2. Bentuk gerakan kaki saat menggiring bola mendorong bola ke depan arah bola
3. Posisi badan yang benar saat akan melakukan teknik dasar mengumpan dan menggiring dibawa ke depan
4. Bentuk arah bola hasil mengumpan dengan kaki bagian dalam datar di atas tanah/lapangan

JUMLAH
JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 16
RUBRIK PENILAIAN
PERILAKU DALAM PERMAINAN SEPAK BOLA

PERILAKU YANG DIHARAPKAN CEK (√ )
1. Bekerja sama dengan teman satu tim
2. Keberanian dalam melakukan gerakan (tidak ragu-ragu)
3. Mentaati peraturan
4. Menghormati wasit(sportif)
5. Menunjukkan sikap bersungguh-sungguh dalam bermain
JUMLAH
JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 5


RUBRIK PENILAIAN
PEMAHAMAN KONSEP GERAK DALAM PERMAINAN SEPAK BOLA

Pertanyaan yang diajukan Kualitas Jawaban
1 2 3 4

1. Bagaimana posisi pergelangan kaki saat menendang dengan kaki bagian dalam dan luar ?

2. Bagaimana posisi telapak kaki saat mengiring bola menggunakan kaki bagian dalam?

JUMLAH
JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 8


Mengetahui.
Kepala Sekolah SMP /MTs Bukittinggi Juli 2009
Guru PenjasOrkes








___________________________ ___________________
Diposkan oleh ronaldi di 05:13 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
Selintas tentang penjas
SELINTAS GAMBARAN TENTANG PENJAS
Oleh :Ronaldi,S.Pd. SMP N 2 Bukittinggi
Disimpulkan dari Perkuliahan Sertifikasi Jalur Pendidikan FPOK UPI Bandung.


Secara tradisional, program pengajaran pendidikan jasmani digambarkan sebagai lantai dasar dari sebuah segitiga sama kaki, atau yang sering disebut sebagai bentuk Piramid. Tepat di atasnya terdapat program olahraga rekreasi, atau lajim pula disebut program klub olahraga. Sedangkan di puncak segitiga terletak program olahraga prestasi.
Program pengajaran pendidikan jasmani adalah tempat untuk mengajarkan keterampilan, strategi, konsep-konsep, serta pengetahuan esensial yang berkaitan dengan hubungan antara kegiatan fisik dengan perkembangan fisik, otot dan syaraf, kognitif, sosial serta emosional anak. Ini berarti bahwa program pendidikan jasmani yang baik bertindak sebagai dasar yang kokoh dan solid untuk seluruh program olahraga dan aktivitas fisik di sekolah dan masyarakat.
Kebanyakan Penjas diajarkan guru dengan format pelatihan (sport-based), dengan tugas-tugas ajar yang lebih sering tidak memperhatikan asas Developmentally Appropriate Practice (DAP)/Pembiasaan positif. Guru secara sengaja meredusir nilai otentik Penjas yang idealnya mampu menjadi wahana pengembangan nilai-nilai kepribadian yang berasaskan nilai-nilai luhur keolahragaan, digantikan oleh landasan nilai kompetisi dangkal yang lebih menekankan kemenangan. Dan yang lebih memprihatinkan, guru-guru pun menjadi lupa dengan upaya mengangkat Ciri Unik Penjas yang seharusnya menjadi milestone “Peletakan Batu Pertama” dalam mengembangkan kebugaran jasmani, keterampilan fisik dan motorik, serta penanaman konsep dan prinsip gerak kepada anak.

Dengan kondisi tersebut, tidak pelak, penjas di sekolah-sekolah pun diubah paradigmanya, bukan lagi sebagai alat pendidikan, melainkan dipertajam menjadi alat untuk membantu “gerakan olahraga” sebagai alat penegak postur bangsa. Alasannya jelas, yaitu agar lebih banyak lagi bibit-bibit atlet yang bisa dipersiapkan. Akibatnya, seperti yang dapat kita saksikan sekarang, Penjas kita lebih bernuansa pelatihan olahraga,yang seharusnya dilakukan didalam extra-kurikuler, daripada sebagai proses sosialisasi dan mendidik anak melalui olahraga.

Demikian kuatnya paradigma pelatihan olahraga dalam Penjas kita, sehingga dewasa ini paradigma tersebut masih kuat digenggam oleh para guru Penjas. Dengan paradigma yang salah tersebut, program olahraga dalam pelajaran pendidikan jasmani lebih menekankan pada harapan agar program tersebut berakhir pada terpetiknya manfaat pembibitan usia dini. Dalam kondisi demikian, pembelajaran yang seharusnya bersifat pengasuhan dan pembiasaan positif itupun sering berubah menjadi aktivitas yang dalam kategori Sue Bredekamp (1993) merupakan program yang Developmentally Inappropriate Practice (DIP)/kebiasaan perkembangan yang tidak baik, padahal yang seharusnya berlangsung adalah program yang Developmentally Appropriate Practice (DAP).
Sebagai konsekuensinya, ruang lingkup pendidikan jasmani menjadi menyempit; seolah-olah terbatas pada program memperkenalkan anak pada cabang-cabang olahraga formal, seperti olahraga permainan, senam, atletik, renang, serta beladiri. Akibat lanjutannya, aktivitas jasmani yang tidak termasuk ke dalam kelompok olahraga (sport) mulai menghilang, di antaranya adalah tarian, gerak-gerak dasar fundamental, serta berbagai permainan sederhana yang sering dikelompokkan sebagai low-organized games.

Dalam lingkup mikro pembelajaran, bahkan terjadi juga pergeseran cara dan gaya mengajar guru, yaitu dari cara dan model pengasuhan serta pengembangan nilai-nilai yang diperlukan sebagai penanaman rasa cinta gerak dalam ajang sosialisasi, berubah menjadi pola penggemblengan fisik dan menjadikan anak terampil berolahraga. Akibatnya, guru lebih berkonsentrasi pada pengajaran teknik dasar dari cabang olahraga yang diajarkan (pendekatan teknis), sambil melupakan pentingnya mengangkat suasana bermain yang bisa menarik minat mayoritas anak (Light, 2004). Wajar jika guru melupakan premis dasar penjas bahwa penjas adalah untuk semua anak (Dauer and Pangrazy, 12th Ed. 2003), tetapi biasanya lebih mementingkan anak-anak yang berbakat. Hal ini diperparah oleh tiadanya perlengkapan dan peralatan yang memungkinkan terjadinya penguasaan teknik dasar (keterampilan) yang memadai agar anak mampu menguasai sekaligus memahami apa yang dipelajarinya.

Hal lain yang juga turut terimbas oleh paradigma tadi adalah menghilangnya suasana pedagogis dalam pembelajaran Penjas. Penjas yang seharusnya menjadi wahana yang strategis untuk mengembangkan self esteem anak, pada gilirannya justru berubah menjadi ‘ladang pembantaian’ kepercayaan diri anak. Dalam banyak proses pembelajaran, anak akan lebih banyak merasakan pengalaman gagal daripada pengalaman berhasil (feeling of success).
Sudah bukan rahasia bahwa kelemahan program penjas di Indonesia selama ini adalah masih mengakar pada kuatnya paradigma keolahragaan di sekolah. Guru-guru penjas kurang memahami perbedaan filosofis antara pendidikan jasmani dan pendidikan olahraga, sejak kedua istilah itu dipertukarkan pada kurikulum tahun 1984. Para guru menganggap bahwa perubahan nama sekadar perubahan trend. Padahal, muatan filosofis dari keduanya sungguh jauh berbeda sehingga arah tujuannya pun berbeda pula.
Pendidikan jasmani berarti program pendidikan melalui gerak, permainan, dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah sebagai alat untuk mendidik dan meningkatkan keterampilan: keterampilan fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan memecahkan masalah, termasuk keterampilan emosional dan sosial. Oleh karena itu, seluruh adegan pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga lebih penting daripada hasilnya. Bagaimana guru memilih metode, melibatkan anak, berinteraksi dengan murid serta merangsang interaksi murid dengan murid lainnya harus menjadi pertimbangan utama.
Di seberang yang lain, pendidikan olahraga adalah pendidikan yang membina anak agar menguasai cabang-cabang olahraga. Kepada murid diperkenalkan berbagai cabang olahraga agar mereka menguasainya. Yang ditekankan adalah "hasil" dari pembelajaran itu, sehingga metode pengajaran serta bagaimana anak menjalani pembelajarannya didikte oleh tujuan yang ingin dicapai.
Dalam perbedaan nuansa di atas, yang terasa nyata adalah pendidikan olahraga memiliki premis yang berbeda dengan pendidikan jasmani. Penjas bersifat inklusif dan melibatkan semua anak dalam seluruh adegan pembelajaran. Dalam pendidikan olahraga-karena orientasinya ditekankan pada keterampilan formal dari cabang olahraganya-proses pembelajaran lebih bercorak eksklusif dengan hanya memberi tempat kepada yang berbakat, serta menyisihkan yang tidak berminat dan kurang mampu.
Sebagai contoh di Indonesia, sirkus tampaknya tidak berkembang karena kurang penekunnya. Walaupun masyarakat Indonesia cukup menggemari pertunjukan ini, Penulis menduga, kurang berhasilnya program Penjas di Indonesia bisa ditunjuk sebagai salah satu penyebab mengapa sirkus dan beberapa aktivitas seni gerak dan olahraga kurang berkembang di negara kita. Artinya, masyarakat kita tidak memiliki perbendaharaan (repertoire) gerak yang dapat ditekuni di masa-masa dewasanya, karena Penjas kita pun belum berhasil membangun dan menumbuhkan kreativitas para siswa dalam hal gerak. Guru penjas kita belum berhasil merangsang kemampuan mencipta dari siswanya, peralatannya terlalu bertumpu pada keharusan mengembangkan kemampuan reproduksi.Pengajaran pada berbagai cabang olah raga formal seperti sepak bola, voli, renang, basket, dsb. dalam cara dan gaya yang formal, menyebabkan anak hanya dilatih kemampuan reproduksinya (meniru yang sudah ada). Akibatnya, anak tidak memiliki keberanian untuk mencoba hal baru, apalagi tumbuh keinginannya untuk mencipta.
Mudah-mudahaan tulisan ini dapat merubah paradigma kita tentang Penjas, semoga berhasil membangun dan menumbuhkan kreativitas para siswa dalam hal gerak. Guru Penjas diharapkan bisa merangsang kemampuan mencipta siswanya,baik dari segi gerak maupun kemampuan kognitifnya seperti berani bertanya,atau memberikan usul atau idenya.Guru Penjas diharapkan bisa kreatif mengembangkan peralatanya,serta mengembangkan bentuk-bentuk permainan yang mengarah kepada gerak dasar fundamental cabang Olahraga.Jangan terlalu bertumpu pada keharusan mengembangkan kemampuan teknik pada berbagai cabang olah raga formal seperti Sepak Bola, Voli, Renang, Basket, dsb.Smoga sukses slalu ,Trims..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

jangan lupa komen ya,,,